Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

21 Februari 2011

Flare Matahari Kelas X2 Mengarah Ke Bumi

Pada tanggal 13 Februari 2011 pada pukul 23.38 wib, bintik Matahari 1158 melepaskan flare Matahari yang cukup besar dengan skala M6,6 dan erupsi tersebut mencapai puncaknya pada tanggal 15 Februari 2011 jam 08.56 wib saat ia kembali melepaskan flare Matahari dengan skala X2.

Flare Matahari yang dilepaskan Bintik Matahari 1158. Kredit : SDO/NASA

Skala atau Kelas X2 merupakan tipe flare Matahari yang paling kuat dan menjadi erupsi pertama dari Siklus Matahari ke-24 yang akan berlangsung di waktu yang akan datang.
Kedua erupsi yang terjadi pada tanggal 13 dan 15 Februari ini direkam oleh Solar Dynamic Observatory milik NASA dan SDO juga berhasil melihat radiasi ultra ungu yang ekstrim yang muncul dari flare tersebut.  Selain mengirimkan radiasi UV (ultraungu) ke Bumi, ledakan ini juga melontarkan CME (lontaran massa korona) ke arah Bumi. Pada film yang diambil STEREO-B, tampak perluasan awan yang terbentuk dan diharapkan badai geomagnetik akan terjadi saat CME tiba di Bumi pada tanggal 17 Februari 2011.
Saat CME mencapai Bumi, ia akan berinteraksi dengan medan magnet di Bumi dan berpotensi untuk menimbulkan badai geomagnetik. Pada kejadian tersebut, aliran partikel Matahari akan mengalir turun sesuai dengan garis-garis medan magnetik Bumi ke kutub-kutub Bumi dan bertabrakan dengan atom nitrogen dan oksigen di atmosfer.

Saat itulah para pengamat di lintang tinggi akan dapat menikmati  aurora atau tirai cahaya warna warni. Tidak akan ada efek signifikan bagi Bumi. Dampak yang mungkin terjadi, antara lain: gangguan pada jaringan listrik karena transformator dalam jaringan listrik akan mengalami kelebihan muatan, gangguan telekomunikasi (merusak satelit, menyebabkan black-out frekuensi HF radio, dll), navigasi, dan menyebabkan korosi pada jaringan pipa bawah tanah.
Pengamatan terjadinya flare atau semburan Matahari pada tanggal 15 Februari 2011 juga dilakukan oleh Alfan Nasrulloh dengan menggunakan teleskop radio JOVE dari observatorium Bosscha.  Selain mendapatkan data terjadinya semburan, para pengamat juga berhasil merekam suara dari semburan radio tersebut. Hasil ini merupakan milestone atau tonggak sejarah yang besar dalam pengembangan teleskop Radio JOVE di Observatorium Bosscha. Menurut Alfan, dari hasil tersebut  Observatorium Bosscha bisa terlibat aktif di radio (frekuensi rendah) untuk “menyambut” siklus aktifitas matahari ke-24 dengan puncak aktifitas matahari sekitar 2012-2014 dalam bentuk solar patrol.


Diagram Pengamatan Radio JOVE 20,1 MHz 15 Februari 2011 jam 11:35:08 - 11:37:08 WIB 
Pada sekitar 04:36 UT atau jam 11:36 WIB tercatat ada semburan yang sangat besar. 
Perhatikan perbandingannya dengan level normal sebelum dan sesudahnya. Peningkatannya sekitar 
7 kali lipat Kondisi langit berawan rata dan cukup tebal saat pengamatan. Garis merah vertikal
 adalah interferensi lokal. Kredit : Alfan N 

Flare Matahari skala M6,6 tanggal 13 Februari 2011


Sebelum bintik Matahari 1158 melepas flare dengan skala X2, pada  
tanggal 13 Februari 2011, ia juga melepaskan ledakan dengan skala 
M6,6 yang berhasil direkam oleh SDO milik NASA.



Erupsi tersebut menyebabkan terjadinya ledakan keras pada gelombang radio
yang bisa didengar oleh penerima gelombang pendek di siang hari. Thomas
Ashcraft di New Meksiko berhasil merekam suara tersebut pada gelombang
 19 – 21 MHz.  Menurut Thomas, itu merupakan letupan gelombang
 radio terkuat dalam siklus Matahari yang baru ini.
Sumber terjadinya flare Matahari tersebut yakni bintik Matahari 1158
berkembang sangat cepat dan area aktifnya sudah memiliki lebar lebih dari
100000 km, dengan setidaknya ada selusin inti hitam seukuran Bumi tersebar
dibawah kanopi magnetik yang tidak stabil.
Awan lontaran massa korona dari flare Matahari tanggal 13 Februari ini
juga bergerak ke Bumi dan menghasilkan aurora yang spektakuler bagi
 pengamat di lintang tinggi


Inilah Gambar-Gambar Aurorra di belahan bumi berlintang tinggi

Aurora yang tampak di Henningsvaer, Lofoten, Norwegia yang dipotret Gabi dan Gunter Reichert.
 Kredit : Gabi & Gunter Reichert


Aurora yang tampak dari area Murmansk, Russia yang dipotret Valentin Jiganov.
 Kredit : Valentin Jiganov

Sumber : langitselatan

6 Mei 2010

Bakteri Bisa Bertahan Hidup di Tanah Mars


Beberapa misi telah dikirim ke Mars dengan harapan untuk menguji permukaan planet untuk kehidupan - atau kondisi yang dapat menciptakan kehidupan - di Planet Merah. Pertanyaan tentang apakah hidup dalam bentuk bakteri (atau sesuatu yang bahkan lebih eksotis!) Ada di Mars adalah hangat diperdebatkan, dan masih memerlukan tegas ya atau tidak. Percobaan dilakukan di sini di Bumi yang mensimulasikan kondisi di Mars dan efeknya terhadap bakteri terestrial menunjukkan bahwa sangatlah mungkin untuk beberapa jenis bakteri untuk cuaca lingkungan yang keras Mars.

Tim yang dipimpin oleh Giuseppe Galletta Departemen Astronomi di University of Padova simulasi kondisi saat ini di Mars, dan kemudian memperkenalkan beberapa jenis bakteri ke dalam simulator untuk merekam tingkat kelangsungan hidup mereka. Simulator - bernama LISA (Laboratorio Italiano Simulazione Ambienti) - kondisi permukaan direproduksi di Mars, dengan suhu mulai dari 23 ke -80 derajat Celsius (73 sampai -112 Fahrenheit), 95% CO2 atmosfer pada tekanan rendah dari 6-9 milibar , dan sangat kuat ultraviolet radiasi. Hasil - beberapa strain bakteri yang ditampilkan untuk bertahan hingga 28 jam di bawah kondisi seperti ini, prestasi yang menakjubkan mengingat bahwa ada tempat di permukaan Bumi dimana mendapatkan ini suhu rendah atau radiasi ultraviolet sama kuat seperti pada mars.
Dua dari strain bakteri diuji - Bacillus pumilus dan Bacillus Nealsonii - keduanya umum digunakan dalam uji laboratorium ekstrem faktor lingkungan dan efeknya terhadap bakteri karena kemampuan mereka untuk menghasilkan endospores ketika stres. Endospores adalah struktur internal dari bakteri yang merangkum yang DNA dan sitoplasma bagian dari dinding yang tebal, untuk mencegah DNA yang rusak.
Galletta Tim menemukan bahwa sel-sel vegetatif bakteri meninggal setelah hanya beberapa menit, karena kadar air rendah dan tinggi radiasi UVPara endospores Namun, mampu bertahan antara 4 dan 28 jam, bahkan saat berhubungan langsung dengan sinar UV. Para peneliti simulasi yang berdebu permukaan Mars dengan meniup vulkanik abu atau debu oksida besi merah pada sampel Ketika ditutupi dengan debu, sampel menunjukkan persentase yang lebih tinggi bertahan hidup, yang berarti bahwa itu mungkin untuk hardy galur bakteri untuk bertahan hidup di bawah permukaan tanah yang sangat lama waktu yang lama. Yang lebih dalam di bawah tanah adalah suatu organisme, semakin ramah kondisi menjadi; kadar air meningkat, dan radiasi UV yang diserap dari tanah di atas.
Mengingat temuan ini, dan semua data yang kaya datang tahun lalu dari pendarat Phoenix - terutama penemuan perchlorates - melanjutkan pencarian kehidupan di Mars masih tampaknya usaha yang masuk akal.
Meskipun hal ini tentu konfirmasi isn'ta kehidupan di Mars, ini menunjukkan bahwa kehidupan yang tidak disesuaikan dengan kondisi planet berpotensi dapat bertahan melawan sifat ekstrem lingkungan di sana, dan Bode baik untuk kemungkinan bakteri Mars bentuk kehidupan. The LISA simulasi juga menunjukkan pentingnya menghindari kontaminasi silang bakteri dari Bumi ke Mars di misi ilmiah yang bepergian ke planet. Dengan kata lain, ketika kita akhirnya mampu menguji secara definitif kehidupan di planet tetangga kita, kita tidak ingin mengetahui bahwa bakteri Bumi kita telah membunuh semua lifeforms asli!!

14 April 2010

Badai Matahari

Matahari adalah sumber dari semua energi yang kita kenal di Bumi. Jika kita merunut semua sumber energi yang kita kenal dan kita gunakan sehari-hari, semuanya akan bermuara pada Matahari. Matahari sendiri menghasilkan energi lewat reaksi nuklir yang terjadi di pusatnya. Namun, meski Matahari memegang peran penting sebagai sumber energi yang kita butuhkan, Matahari juga menyimpan potensi yang bisa memberikan ancaman bagi manusia dan ekosistem Bumi. Ancaman yang dimaksud adalah peristiwa yang dikenal dengan nama badai matahari.

Struktur Matahari


Sebelum membicarakan tentang badai matahari, kita akan melihat sekilas tentang Matahari.?Matahari adalah sebuah bintang, yaitu bola plasma panas yang ditopang oleh gaya gravitasi. Di pusat Matahari (nomor 1 dalam Gambar 1), terjadi reaksi nuklir (fusi) yang mengubah 4 atom hidrogen menjadi 1 atom helium. Reaksi fusi tersebut, selain menghasilkan helium, juga menghasilkan energi dalam jumlah melimpah (ingat persamaan terkenal oleh Einstein: E=mc2). Energi yang dihasilkan, di pancarkan keluar melewati bagian-bagian Matahari, yaitu: zona radiatif (nomor 2), zona konventif (nomor 3), dan bagian atmosfer Matahari, yang terdiri dari fotosfer (nomor 4), kromosfer (nomor 5), dan korona (nomor 6). Dan badai Matahari adalah peristiwa yang berkaitan dengan bagian atmosfer Matahari tersebut.
Bagian terluar dari Matahari, yaitu korona, memiliki temperatur yang mencapai jutaan kelvin. Dengan temparatur yang tinggi tersebut, materi yang berada di korona Matahari memiliki energi kinetik yang besar. Tarikan gravitasi Matahari tidak cukup kuat untuk mempertahankan materi korona yang memiliki energi kinetik yang besar itu. Dan secara terus menerus, partikel bermuatan yang berasal dari korona, akan lepas keluar angkasa. Aliran partikel ini dikenal dengan nama angin matahari, yang terutama terdiri dari elektron dan proton dengan energi sekitar 1 keV. Setiap tahunnya, sebanyak 1012 ton materi korona lepas menjadi angin matahari, yang bergerak dengan kecepatan antara 200-700 km/s.
Berbeda dengan pusat Matahari yang relatif sederhana, bagian atmosfer Matahari relatif lebih rumit. Karena di atmosfer Matahari ini, medan magnetik Matahari berperan besar terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya. Ada berbagai fenomena menarik diamati di atmosfer Matahari berkaitan dengan medan magnetik Matahari, seperti bintik matahari (sun spot), ledakan Matahari (solar flare), prominensa, dan pelontaran material korona (CME – Coronal Mass Ejection). Hal-hal inilah yang berkaitan dengan badai matahari.
Jadi apa yang dimaksud dengan badai matahari?
Singkatnya, badai matahari adalah kejadian / event dimana aktivitas Matahari berinteraksi dengan medan magnetik Bumi. Badai matahari ini berkaitan langsung dengan peristiwa solar flare dan CME. Kedua hal itulah yang menyebabkan terjadinya badai matahari.
Solar flare adalah ledakan di Matahari akibat terbukanya salah satu kumparan medan magnet permukaan Matahari. Ledakan ini melepaskan partikel berenergi tinggi dan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang sinar-x dan sinar gamma. Partikel berenergi tinggi yang dilepaskan oleh peristiwa solar flare, jika mengarah ke Bumi, akan mencapai Bumi dalam waktu 1-2 hari. Sedangkan radiasi elektromagnetik energi tingginya, akan mencapai Bumi dalam waktu hanya sekitar 8 menit.
Lalu bagaimana dengan CME?
CME adalah pelepasan material dari korona yang teramati sebagai letupan yang menyembur dari permukaan Matahari. Dalam semburan material korona ini, sekitar 2×1011 – 4×1013 kilogram material dilontarkan dengan energi sebesar 1022 – 6×1024 joule. Material ini dilontarkan dengan kecepatan mulai dari 20 km/s sampai 2000 km/s, dengan rata-rata kecepatan 350 km/s. Untuk mencapai Bumi, dibutuhkan waktu 1-3 hari.
Matahari kita memiliki siklus keaktifan dengan periode sekitar 11 tahun. Siklus keaktifan ini berkaitan dengan pembalikan kutub magnetik di permukaan Matahari. Keaktifan Matahari ini bisa dilihat dari jumlah bintik matahari yang teramati. Saat keaktifan Matahari mencapai maksimum, kita akan mengamati bintik matahari dalam jumlah paling banyak di permukaan Matahari. Dan pada saat keaktifan Matahari mencapai maksimum inilah, angin matahari lebih ‘kencang’ dari biasanya dan partikel-partikel yang dipancarkan juga lebih energetik. Dan peristiwa solar flare dan CME dalam skala besar juga lebih dimungkinkan untuk terjadi. Dengan kata lain, saat keaktifan Matahari mencapai maksimum, Bumi akan lebih banyak dipapar dengan partikel-partikel bermuatan tinggi (lebih tinggi dari biasanya) dan radiasi elektromagnetik energi tinggi.
Partikel-partikel bermuatan yang dipancarkan dari peristiwa solar flare dan CME, saat mencapai Bumi, akan berinteraksi dengan medan magnetik Bumi. Interaksi ini akan menyebabkan gangguan pada medan magnetik Bumi buat sementara.
Saat partikel-partikel bermuatan dengan energi tinggi mencapai Bumi, ia akan diarahkan oleh medan magnetik Bumi, untuk bergerak sesuai dengan garis-garis medan magnetik Bumi, menuju ke arah kutub utara dan kutub selatan magnetik Bumi. Saat partikel-partikel energetik tersebut berbenturan dengan partikel udara dalam atmosfer Bumi, ia akan menyebabkan partikel udara (terutama nitrogen) terionisasi. Bagi kita yang berada di permukaan Bumi, yang kita amati adalah bentuk seperti tirai-tirai cahaya warna-warni di langit, yang dikenal dengan nama aurora. Aurora ini bisa diamati dari posisi lintang tinggi di sekitar kutub magnetik Bumi (utara dan selatan).
Aurora


Saat terjadi badai matahari, partikel-partikel energetik tadi tidak hanya menghasilkan aurora yang indah yang bisa di amati di lintang tinggi. Tapi bisa memberikan dampak yang relatif lebih besar dan lebih berbahaya. Dampak yang dimaksud antara lain: gangguan pada jaringan listrik karena transformator dalam jaringan listrik akan mengalami kelebihan muatan, gangguan telekomunikasi (merusak satelit, menyebabkan black-out frekuensi HF radio, dll), navigasi, dan menyebabkan korosi pada jaringan pipa bawah tanah.
Peristiwa gangguan besar yang disebabkan oleh badai matahari, yang paling terkenal adalah peristiwa tahun 1859, peristiwa yang dikenal dengan nama Carrington Event. Saat itu, jaringan komunikasi telegraf masih relatif baru tapi sudah luas digunakan. Ketika terjadi badai Matahari tahun 1859, jaringan telegraf seluruh Amerika dan Eropa mati total. Aurora yang biasanya hanya bisa diamati di lintang tinggi, saat itu bahkan bisa diamati sampai di equator.
Masih ada beberapa contoh peristiwa lain yang berkaitan dengan badai matahari yang terjadi dalam abad ke-20 dan 21:
1. 13 maret 1989: Terjadi CME besar 4 hari sebelumnya. Badai geomagnetik menghasilkan arus listrik induksi eksesif hingga ribuan ampere pada sistem interkoneksi kelistrikan Ontario Hydro (Canada). Arus induksi eksesif ini menyebabkan sejumlah trafo terbakar. Akibat dari terbakarnya trafo tsb, jaringan listrik di seluruh Quebec (Canada) putus selama 9 jam. Guncangan magnetik badai sekitar seperempat Carrington event, (sekitar 400 nT). Aurora teramati sampai di Texas
2. Januari 1994 : 2 buah satelit komunikasi Anik milik Canada rusak akibat digempur elektron-elektron energetik dari Matahari. Satu satelit bisa segera pulih dalam waktu beberapa jam, namun satelit lainnya baru bisa dipulihkan 6 bulan kemudian.
Total kerugian akibat lumpuhnya satelit ini disebut mencapai US $ 50 – 70 juta.
3. November 2003 : Mengganggu kinerja instrumen WAAS berbasis GPS milik FAA AS selama 30 jam.
4. Januari 2005: Berpotensi mengakibatkan black-out di frekuensi HF radio pesawat, sehingga penerbangan United Airlines 26 terpaksa dialihkan menghindari rute polar (kutub) yang biasa dilaluinya.
Badai Matahari juga bisa berbahaya bagi makhluk hidup secara biologi. Bahaya ini terutama bagi para astronot yang kebetulan sedang berada di luar angkasa saat badai matahari terjadi. Bagi kita yang berada di permukaan Bumi, kita relatif aman terlindungi oleh medan magnetik Bumi. Pengaruh langsung dari badai matahari ini hanya dialami oleh binatang-binatang yang peka terhadap medan magnetik Bumi. Karena badai matahari mengganggu medan magnetik Bumi, maka binatang-binatang yang peka terhadap medan magnetik akan secara langsung terimbas. Misalnya burung-burung, lumba-lumba, dan paus, yang menggunakan medan magnetik Bumi untuk menentukan arah, untuk sesaat ketika badai matahari terjadi, mereka akan kehilangan arah.
Saat ini, Matahari sedang menuju puncak keaktifan dalam siklusnya yang ke-24. Puncak keaktifan Matahari ini diperkirakan terjadi sekitar tahun 2011-2013. Saat puncak keaktifan Matahari pada siklus ke-24 ini, diperkirakan tidak akan jauh berbeda dengan saat puncak keaktifan pada siklus-siklus sebelumnya. Mungkin efeknya akan sedikit lebih besar, tapi ada juga yang menduga akan terjadi hal yang sebaliknya, justru lebih kecil efeknya. Yang manapun itu kasusnya, bisa dikatakan semua ahli fisika matahari sepakat tidak mungkin terjadi peristiwa besar yang akan membahayakan kehidupan di muka Bumi.
Berdasarkan pengetahuan kita saat ini, badai matahari hanya akan memberikan ancaman bahaya yang rendah. Solar flare dan CME yang terjadi di Matahari, tidak akan cukup untuk menyebabkan peristiwa seperti yang digambarkan dalam beberapa film yang beredar belakangan ini. Beberapa bintang yang diamati memang menunjukkan adanya peristiwa yang dikenal dengan istilah superflare, yaitu flare seperti yang kita amati di Matahari tapi dengan intensitas yang jauh lebih besar. Tapi peristiwa serupa diduga bukan peristiwa yang umum dan diragukan bakal terjadi pada Matahari kita, setidaknya saat ini. Memang peristiwa solar flare dan CME belum bisa diprediksi dengan baik untuk saat ini. Tapi pengetahuan kita yang didapat dari pengamatan Matahari lewat berbagai observatorium landas-bumi dan wahana antariksa yang terus menerus mengamati Matahari, kita semakin mengerti berbagai peristiwa yang terjadi di Matahari. Setidaknya untuk saat ini, kita bisa mengatakan dengan cukup yakin bahwa yang digambarkan dalam film-film fiksi ilmiah tentang badai raksasa matahari, tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Source : langitselatan.com

6 April 2010

Gempa Chile 8.8 SR Ubah Sumbu Rotasi Bumi


Astaga! Seberapa besar adalah 8,8 magnitudo gempa di Chile? Salah satu ilmuwan mengatakan gemetar mungkin telah mempengaruhi seluruh planet dengan menggeser Bumi pada porosnya. Ini mungkin memperpendek panjang setiap hari di Bumi sekitar 1,26 mikrodetik. Menggunakan model kompleks JPL penelitian ilmuwan Richard Gross menghitung bagaimana rotasi bumi harus diubah sebagai hasil dari 27 Desember 2010 gempa Februari lalu. Jika angka itu benar, gempa memindahkan angka sumbu Bumi (sumbu tentang yang itu massa Bumi seimbang) sebesar 2,7 milliarcseconds (sekitar 8 cm, atau 3 inci).

Sumbu angka bumi adalah tidak sama dengan poros utara-selatan, mereka diimbangi oleh sekitar 10 meter (sekitar 33 kaki).Sebagai perbandingan, Gross mengatakan model yang sama diperkirakan besarnya gempa bumi Sumatera 2004 9,1 skala richter seharusnya memperpendek panjang hari sebesar 6,8 mikrodetik dan menggeser sumbu Bumi sebesar 2,32 milliarcseconds (sekitar 7 cm, atau 2,76 inci).

Gross mengatakan bahwa meskipun gempa Chili jauh lebih kecil daripada gempa Sumatera, diperkirakan telah berubah posisi sumbu sosok dengan sedikit lebih karena dua alasan. Pertama, tidak seperti gempa bumi, Sumatera 2004 yang terletak di dekat khatulistiwa, gempa Chili 2010 terletak di-bumi lintang pertengahan, yang membuatnya lebih efektif dalam pergeseran sumbu gambar Bumi.

Kedua,kefatalan yang bertanggung jawab untuk gempa Chiliean ke Bumi adalah sudut yang sedikit lebih curam daripada kesalahan yang bertanggung jawab untuk gempa bumi Sumatera 2004. Hal ini membuat kesalahan Chile lebih efektif dalam menggerakkan massa Bumi secara vertikal dan karenanya lebih efektif dalam pergeseran sumbu gambar Bumi.

Gross mengatakan prediksi Chile kemungkinan akan berubah sebagai data pada gempa yang lebih halus.

 

Followers

Profile

Foto saya
Saya hanyalah anak laki-laki biasa yang ingin eksis di dunia asal tidak narsis

Link Exchange

Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan linkback kembali

Photobucket

Subscribe

Jika ingin mendapat update dari blog ini, silakan isi alamat email Anda di bawah ini

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Recent Visitors

Info - Kita - Bersama Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template